Untuk Setiap Anak di Dunia

Alif Muzadi
2 min readMay 18, 2022

--

Menjadi seorang anak adalah karma paling buruk yang telah tuhan berikan.

Tulisan ini didedikasikan untuk seiap anak yang menjadi korban takdir yang tidak pernah mereka minta.

Antara hidup dan mati.

Ada sebuah pepatah lama yang acap kali di kumandangkan; “sialnya kita tidak pernah bisa memilih untuk lahir dikeluarga yang di inginkan, dan lebih sialnya lagi kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan”. Pada akhirnya kita adalah korban tak berdaya dari ganasnya takdir yang tuhan ciptakan.

Setiap manusia pernah menjadi seorang anak, dan akan melewati fase menyakitkan yang sekarang kita hidupi, setelah itu ada yang tanpa menahu menciptakan rasa sakit baru, dan ada juga yang menghancurkan anaknya sedemikian rupa. Pada akhirnya karma buruk ini tidak akan pernah usai.

-

Kulihat orang tua yang membunuh anaknya secara perlahan.

Ada yang dieksploitasi atas mimpi-mimpi pupus orang tuanya,

Ada yang harus berperang setiap malam dibawah atap yang mereka sebut rumah,

Ada yang mengais remah-remah makanan demi kemaslahatan hidup,

Ada yang kakinya dipasung atas dalih kasih sayang dan kepedulian,

Ada yang berjalan dengan kaki terpincang-pincang,

Ada yang merangkak dengan tubuh yang terlampau hancur karena menyerah sama saja dengan mati,

Dan ada juga yang dimatikan sebelum sempat isak tangis nya memenuhi ruang persalinan.

-

Kita semua adalah korban dari rasa sakit yang tidak bisa kita kendalikan.

Atas semua nasib petaka yang diturunkan secara sepihak,

Atas semua kehidupan yang tidak pernah kita minta,

Atas semua pilihan yang tidak kita tahu ujungnya,

Atas semua rasa sakit yang menghantui disudut ingatan,

Atas semua kebingungan yang membuntuti,

Atas semua rasa lapar yang bertamu ditengah malam,

Atas semua isak tangis yang riuh dibilik tidur,

Atas semua murka yang membanjiri alam sadar,

Sejatinya kita adalah gembala-gembala kecil yang tidak memiliki tuan.

-

Untuk semua harapan yang akan mati pada akhirnya.

Untuk semua anak yang hanya memiliki dirinya sendiri,

Untuk semua anak yang telah ditinggalkan tuhan,

Untuk semua anak yang tidak diperbolehkan mengambil pilihan dalam hidupnya,

Untuk semua anak yang mengejar kematian,

Untuk semua anak yan-

Kami telah mati, bahkan sebelum sempat kata-kata ini selesai.

-

Dua tahun lalu, aku melepas agama yang sudah turun temurun diwariskan dengan sepihak, memilih berkeyakinan agnostik sebagai bentuk pembangkangan terhadap tuhan dan orang tua atas semua penderitaan yang mereka berikan untuk aku hidupi.

Dan malam ini, aku memutus hubungan dengan kedua orang tuaku, menolak diriku untuk dimiliki oleh siapapun, sebagai balasan atas dosa yang harus mereka tanggung karena lebih memilih agama ketimbang anaknya.

Pernah ada yang berkata padaku bahwa manusia hanya memiliki dua pilihan atas semua karma buruk yang telah tuhan berikan; membunuh dirinya sendiri, atau menerima nya dengan terbuka. Kiranya kini waktuku untuk mengejar kematian yang datang terlambat.

--

--

Alif Muzadi
Alif Muzadi

Written by Alif Muzadi

Tumbuh di keluarga yang tidak sempurna mendorongnya melihat banyak hal dan berpetualang dalam perasaan-perasaan asing. Semoga tulisan ini dapat memberikan arti.

No responses yet